Oleh : Akib Widyana
NIM : 13040112130180 - Kelas C - Semester 2
Program Studi Ilmu Perpustakaan - Jurusan Ilmu Perpustakaan
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Abstrak
Perlunya menerapkan sistem pengelolaan perpustakaan yang baik dan benar sehingga tidak menyebabkan inefisiensi pada segala bidang. Untuk menjawab tantangan di masa depan, pustakawan Indonesia harus berani tampil dalam dunia kepustakawanan yang berwawasan multidisiplin dan multi-skills.Tujuan perpustakaan meliputi memperluas penyebaran koleksi informasi perpustakaan dengan cara konvensional dan digital.
Kata kunci : Perpustakaan, Pustakawan, Teknologi, Informasi.
BAB I
NIM : 13040112130180 - Kelas C - Semester 2
Program Studi Ilmu Perpustakaan - Jurusan Ilmu Perpustakaan
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Abstrak
Perlunya menerapkan sistem pengelolaan perpustakaan yang baik dan benar sehingga tidak menyebabkan inefisiensi pada segala bidang. Untuk menjawab tantangan di masa depan, pustakawan Indonesia harus berani tampil dalam dunia kepustakawanan yang berwawasan multidisiplin dan multi-skills.Tujuan perpustakaan meliputi memperluas penyebaran koleksi informasi perpustakaan dengan cara konvensional dan digital.
Kata kunci : Perpustakaan, Pustakawan, Teknologi, Informasi.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Persoalan mendasar yang dihadapi oleh para pengelola
perpustakaan pada dasarnya bukan terletak pada kurangnya minat masyarakat
terhadap keberadaan perpustakaan maupun keengganan masyarakat untuk menyambangi
perpustakaan, karena memang minat baca masyarakat akan terus berkembang seiring
dengan kemajuan pendidikan sebagai kebutuhan primer masyarakat. Tetapi lebih
kepada bagaimana meyakinkan suatu instansi untuk mau menerapkan sistem
pengelolaan perpustakaan yang baik dan benar sehingga tidak menyebabkan
inefisiensi pada segala bidang, selain itu juga keberadaan sumber daya manusia
bidang perpustakaan yang memiliki kompetensi khusus dalam bidangnya yang masih
minim, dan juga pertumbuhan bahan pustaka yang tidak diimbangi dengan
ketersediaan ruangan yang memadai.
Problema tersebut tentu sangat memprihatikan, karena akan
berakhir kepada pencitraan yang buruk dalam bidang perpustakaan, karena menurut
saya tuntutan penggunaan teknologi informasi dan digital di dalam dunia
perpustakaan tidak akan memberikan perbaikan apabila permasalahan-permasalahan
mendasar yang ada tidak diatasi terlebih dahulu. Namun dengan adanya korelasi
yang apik antara perpustakaan sebagai sumber informasi dengan teknologi akan
dicapai tujuan utama perangkat teknologi yang memungkinkan
kecepatan dan keakuratan informasi serta untuk
meningkatkan layanan.
Dipandang dari nilai pentingnya, masyarakat yang peduli
dan memperhatikan pendidikan akan mengatakan keberadaan buku penting bahkan ada
sebuah pepatah yang mengatakan buku adalah sumber ilmu. Buku yang menjadi bahan
pokok keberadaan perpustakaan membutuhkan penanganan yang lebih mendalam untuk
menjawab kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan informasi. Sehingga
perpustakaan diharapkan mampu memainkan peranan dan fungsinya secara optimal,
dan untuk mencapai hal itu dibutuhkan penanganan yang baik terhadap seluruh
aspek bidang manajerial perpustakaan untuk mengatasi tantangan-tantangan yang
akan muncul seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi.
b. Kerangka teori
Sebagai
landasan dalam penyusunan, akan dijelaskan mengenai pengertian perpustakaan
dari beberapa segi, yaitu:
1. Pengertian menurut bahasa
Dalam bahasa Indonesia istilah “perpustakaan” dibentuk dari kata dasar
pustaka ditambah awalan “per” dan akhiran ”an”. Menurut Kamus Umum Bahasa
Indonesia perpustakaan diartikan sebagai “kumpulan buku-buku (bahan bacaan,
dsb).”[1] Sedangkan
dalam bahasa Inggris disebut “library yang berarti perpustakaan.[2]
2. Pengertian menurut istilah
- Perpustakaan diartikan sebuah ruangan
atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku
dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang
digunakan pembaca bukan untuk dijual ( Sulistyo, Basuki ; 1991 ).
- Menurut Sutarno NS, M. Si
Perpustakaan adalah suatu ruangan, bagian dari gedung/bangunan, atau gedung
itu sendiri, yang berisi buku-buku koleksi, yang disusun dan diatur sedemekian
rupa sehingga mudah dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan
untuk pembaca.[3]
- C. Larasati Milburga, dkk
Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi
bahan pustaka yang diatur secara sistematis dengan cara tertentu untuk
digunakan secara berkesinambungan oleh pemakainya sebagai sumber informasi.[4]
Dari pengertian di atas dapat ditarik suatu kesimpulan
bahwa pengertian perpustakaan adalah beberapa unit kerja yang terintegrasi
melalui sistem untuk mendukung kinerja pengumpulan, penyimpan dan pemelihara
koleksi pustaka yang diorganisasikan dan diadministrasikan dengan cara tertentu
untuk untuk
pengolahan, penyusunan dan pelayanan koleksi yang mendukung berjalannya fungsi
– fungsi perpustakaan.
c.
Rumusan masalah
a. Apa saja berbagai tantangan yang dihadapi perpustakaan
sekarang dan kedepan?
b. Bagaimana mengatasi berbagai tantangan perpustakaan
sekarang dan kedepan?
c. Bagaimana mengkoordinasikan seluruh aspek dalam
manajerial perpustakaan agar tujuan utama perpustakaan dapat dicapai?
BAB II
ISI
A.
Pengertian
perpustakaan
Menurut
Sulistyo Basuki dalam bukunya Pengantar Ilmu Perpustakaan, perpustakaan
diartikan sebuah ruang atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan
terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang
digunakan pembaca bukan untuk dijual. Ada dua unsur utama dalam perpustakaan,
yaitu buku dan ruangan. Di zaman sekarang koleksi perpustakaan tidak hanya
terbatas berupa buku-buku, melainkan bisa berupa koleksi film, slide, rekaman
suara dan lain-lain yang dapat diterima di perpustakaan sebagai sumber
informasi. Kemudian semua sumber informasi itu diorganisir, disusun teratur
sehingga ketika kita membutuhkan suatu informasi kita dengan mudah dapat
menemukannya.
Lebih jauh
lagi kita dapat melacak kedudukan perpustakaan dalam kerangka ilmu informasi.
Dalam ilmu informasi kita mengenal dokumentasi yang didalamnya meliputi
dokumen dalam wujud korporil (museum), dokumen dalam wujud literair
(perpustakaan), dan dokumen privat (kearsipan). Secara umum kita dapat
mengidentifikasi dokumen dalam wujud korporil sebagai benda-benda artefak dan
koleksi-koleksi antik dan karya yang
memiliki nilai historis dan archaic, khasanah tersebut dikelola oleh museum. Dokumen
literair yang meliputi bidang perpustakaan disebut juga sebagai dokumentasi
publik (dokumentasi yang terbuka untuk umum) yang dibedakan dengan dokumentasi
privat (arsip).
Apabila ditinjau dari tujuannya, perpustakaan tidak hanya dimaksudkan
untuk menyediakan koleksi bahan-bahan tercetak, namun juga berupa:
1.
Menghimpun
informasi dalam berbagai bentuk atau format untuk pelestarian bahan pustaka dan
sumber informasi sumber ilmu pengetahuan lainnya.
2.
Sebagai agen perubahan ( Agent of
changes ) dan agen kebudayaan serta pusat informasi dan sumber belajar mengenai
masa lalu, sekarang, dan masa akan datang. Selain itu, juga dapat menjadi pusat
penelitian, rekreasi dan aktifitas ilmiah lainnya.
3.
Menyediakan sarana atau tempat untuk
menghimpun berbagai sumber informasi untuk dikoleksi secara terus menerus, diolah dan
diproses.
Sebagai sarana atau wahana untuk melestarikan hasil budaya manusia (ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya ) melalui aktifitas pemeliharaan dan pengawetan koleksi.
Sebagai sarana atau wahana untuk melestarikan hasil budaya manusia (ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya ) melalui aktifitas pemeliharaan dan pengawetan koleksi.
4.
Menciptakan
masyarakat terpelajar dan terdidik, terbiasa membaca, berbudaya tinggi serta
mendorong terciptanya pendidikan sepanjang hayat ( Long life education ).
Sedangkan tujuan perpustakaan akan erat kaitannya dengan
peranannya didalam masyarakat. Peranan perpustakaan adalah menjadi
media antara pemakai dengan koleksi sebagai sumber informasi pengetahuan karena
dengan tersedianya khasanah pustaka dapat menjadi solusi dari kebutuhan
masyarakat terhadap ilmu pengetahuan, kemudian menjadi lembaga pengembangan minat dan
budaya membaca serta pembangkit kesadaran pentingnya belajar sepanjang hayat dengan peningkatan fasilitas dan pelayanan perpustakaan
karena setelah terbangun budaya baca penyebaran
dan penyerapan pengetahuan akan lebih mudah dilakukan. Peranan yang lain adalah mengembangkan
komunikasi antara pemakai dan atau dengan penyelenggara sehingga tercipta
kolaborasi, sharing pengetahuan maupun komunikasi ilmiah lainnya serta motivator, mediator dan fasilitator
bagi pemakai dalam usaha mencari, memanfaatkan dan mengembangkan ilmu
pengetahuan dan pengalaman.Berperan sebagai agen perubah, pembangunan dan
kebudayaan manusia.
B. Tantangan Perpustakaan Sekarang dan Kedepan
Perkembangan zaman dan teknologi sarat dengan pembenahan
dalam semua bidang yang ada dalam hal ini termasuk perpustakaan. Dapat
dikatakan pekerjaan pustakawan saat ini tidak sekedar menata buku tetapi
memberikan akses informasi kepada masyarakat dalam berbagai format, hal itu juga karena tuntutan untuk melibatkan teknologi
informasi didalam dunianya atau dengan kata lain pengubahan format dari
konvensional menuju digital. Para pemerhati bidang perpustakaan
berjuang memberikan akses internet untuk
mencegah agar tidak dianggap menjadi masyarakat kelas-dua dalam dunia digital.
Tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan perpustakaan
adalah ketersediaan sarana perpustakaan, dan keterampilan serta keahlian
pengelola perpustakaan. Sarana sebagai alat atau peralatan yang mendukung
maksud dan tujuan dalam hal ini adalah perpustakaan dapat berupa ruangan atau
gedung, kemudian rak-rak, fasilitas baca, kemudian anggaran dan sumber daya manusia
yang menjadi bagian dalam proses manajerial. Dalam pelaksanaannya keberadaan
hal-hal yang mendukung tersebut memang masih sangatlah minim, bahkan tergantung
dari tingkat taraf hidup daerah yang berbeda-beda. Pertumbuhan buku-buku
seiring dengan majunya dunia pendidikan tidak diimbangi dengan pembangunan
ruangan dan penyediaan fasilitas yang memadai. Sekolah
yang telah memiliki perpustakaan pun diyakini masih banyak yang belum
sepenuhnya menyelenggarakan perpustakaan secara ideal. Padahal, perpustakaan
adalah sarana baku yang harus ada di sekolah guna meningkatkan mutu pendidikan serta
menjadi tonggak dan wahana membangun peradaban kemanusiaan yang lebih baik. Kondisi serupa juga dialami
oleh Perpustakaan Daerah, ditambah makin minimnya koleksi dan sedikitnya
anggaran untuk perpustakaan dari sektor pendidikan. Selain itu dari segi SDM faktor
keterampilan dan keahlian pengelola perpustakaan juga berpengaruh terhadap
minat pengguna perpustakaan. Perpustakaan yang ideal adalah yang dikelola
secara profesional, berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan pengguna, dan
selalu berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan terus menerus.Sehingga hal-hal itu
menyebabkan keterbatasan
perpustakaan dan kurangnya koleksi perpustakaan yang
jelas berpengaruh terhadap minat kunjungan ke perpustakaan.
Ada beberapa tantangan-tantangan lain yang muncul dalam dunia kepustakawanan. Tantangan tersebut dapat memacu maupun
menghambat perpustakaan di Negara kita. Keberadaan internet yang sudah menjadi
bagian dalam hidup kita menyebabkan suatu tantangan yang berhubungan dengan
adanya Web 2.0. Dengan kata lain, internet telah menjadi fasilitas utama
penunjang pendidikan dan mengesampingkan adanya perpustakaan. Fenomena ini juga
semakin terlihat di Indonesia dimana semakin banyak anak-anak yang menggunakan
internet sebagai alat Bantu untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan rumah.
Sementara itu, internet pun juga terus berkembang dan saat ini masyarakat telah
banyak memanfaatkan web 2.0 sebagai suatu media untuk berkomunikasi dan berbagi
pengalaman dan cerita, berbagi gambar, berbagi audio dan sebagainya. Web 2.0
merupakan pengembangan internet sebagai media untuk bersosialisasi dengan
sesame serta untuk berbagi. Sebagian perpustakaan juga telah mulai menerapkan
web 2.0 agar fasilitas dan informasi mereka dapat dengan mudah diketahui oleh
para penggunanya. Dalam kaitan dengan perpustakaan, web 2.0 dapat digunakan
misalnya untuk lebih menjelaskan tentang isi katalog, bibliografi, indeks, dan
informasi-informasi lain yang mampu diakses. Dengan berbasis web 2.0 maka
katalog yang dulunya hanya berisi informasi serba sedikit tentang sebuah buku,
kini informasinya jauh lebih bermanfaat dari sebelumnya, karena katalog ini
dilengkapi dengan daftar isi buku, review dan lain sebagainya. Walaupun saat
ini para pustakawan Indonesia masih berbicara tentang perpustakaan digital
.Untuk dapat maju dan sejajar dengan para pustakawan di negara lain, kita harus
berani tampil dalam dunia kepustakawanan yang berwawasan multidisiplin dan
multi-skills.
Penyelenggaraan perpustakaan saat ini mensyaratkan
penggunaan teknologi informasi. Perpustakaan harus mampu memenuhi kebutuhan
pengguna yang semakin beragam dan fleksibel. Pengguna perpustakaan sekarang
menghendaki kecepatan dan ketepatan atas informasi yang dibutuhkan. Artinya,
pengelolaan perpustakaan harus mengikuti perkembangan teknologi informasi.
Koleksi, data, dan informasi yang dimiliki perpustakaan dilayankan kepada
pengguna dengan memanfaatkan berbagai media baik online, offline, maupun
layanan baca di tempat dan peminjaman.
Tantangan selanjutnya adalah mengenai peran-peran baru dalam dunia
kepustakawanan, peran-peran tersebut meliputi gaming librarian, digital
strategist, digital technologist, e-resources librarian, archivist
librarian, marketing and communication
librarian, teaching and learning librarian. Yang dijabat oleh para pustakawan
dan berlatar belakang pustakawan. Sedangkan apabila dibandingkan dengan
kepustakawanan di Indoensia pengelola perpustakaan masih saja terdapat pada
jabatan fungsional pustakawan.
Selanjutnya adalah tantangan
klasik yang terutama kita hadapi dalam dunia sehari-hari. Walaupun selalu saja
banyak perpustakaan mengatakan bahwa perpustakaan mereka selalu ramai
dikunjungi oleh para pemakainya, namun perlu ditelusuri lebih lanjut, berapa
persen dari masyarakat tersebut yang telah memanfaatkan perpustakaan.
Pengembangan minat baca memang harus dilakukan dari kecil dan jangan sampai
terputus di tengah jalan. Untuk itulah kita perlu memikirkan juga para
pustakawan yang bekerja di sekolah-sekolah (SD, SMP, dan SMA) agar perjuangan
mereka bisa lebih diargai dan mendapatkan apresiasi yang lebih baik lagi.
mengeluarkan berbagai bacaan tentang literasi yang sangat baik untuk dipelajari
oleh para pustakawan. dan dugaan rendahnya minat baca
masyarakat karena ketersediaan perpustakaan dan koleksi yang dimiliki terbatas.
Saat ini secara nasional terdapat lebih dari 76 ribu sekolah dari jenjang SD
hingga SMA/SMK belum memiliki perpustakaan. Rinciannya sekolah yang belum
memiliki perpustakaan itu adalah 55 ribu lebih SD, 12 ribu lebih SMP, dan
hampir 9 ribu SMA/SMK.
Tantangan berikutnya ada di dunia perkuliahan bagi para calon
pustakawan dan setelahnya. Para pengajar dan pembelajar akan sangat baik kalau
bisa mempertimbangkan para calon pustakawan tersebut tidak hanya memiliki
ketrampilan dalam bidangnya saja, tetapi juga mampu berbicara pada forum-forum
yang mungkin berawal dari kampus dan kemudian masuk ke tingkat lokal, nasional
dan internasional. Jadi pustakawan diharapkan tidak hanya berkutat pada
pengelolaan buku saja namun juga dapat memberikan kontribusi seperti pengadaan
penelitian mengenai bidangnya dan mampu mempresentasikan pada forum nasional
maupun internasional.
Jadi jelas dapat kita ketahui bahwa tantangan
perpustakaan tidak sekadar gedung dan koleksi perpustakaan berupa buku,
majalah, dan sejenisnya yang masih terbatas. Tetapi lebih dari itu adalah
penyediaan ragam koleksi dan mekanisme layanan yang prima, dengan memanfaatkan
teknologi, serta memaksimalkan kinerja dan keahlian para pustakawan.
C. Solusi tantangan perpustakaan sekarang dan kedepan
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menjawab permasalahan yang muncul
dari tantangan-tantangan tersebut adalah:
1. Mengoptimalkan
regulasi yang dapat menjadi landasan pengembangan perpustakaan, terutama UU No.
43/2007 tentang Perpustakaan. Selain itu, untuk perpustakaan sekolah diatur
dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa sekolah harus
mengalokasikan minimal lima persen dari rencana anggaran sekolah untuk
perpustakaan dan hal yang sama juga berlaku untuk perguruan tinggi. Karena pelaksanaan dan implementasi
regulasi ini masih sangat kurang.
2. Mengubah
cara pandang masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan yang merupakan Keharusan untuk mengubah
cara pandang masyarakat adalah masalah mental. Kelemahan mental merupakan
bentuk-bentuk dari pengaruh konsep atau pandangan lama yang telah mengendap
dalam alam pikiran individu. Selama ini, masyarakat cenderung beranggapan perpustakaan
hanya diperuntukkan bagi mereka yang berpendidikan dan memiliki minat
baca-tulis yang tinggi. Oleh karena itu, upaya mengubah cara pandang masyarakat
terhadap keberadaan perpustakaan berkaitan erat dengan kebutuhan untuk
merancang bentuk perpustakaan yang mudah diakses oleh masyarakat dari berbagai
kalangan.
3. Memperluas
penyebaran perpustakaan dengan komitmen
untuk membangun masyarakat yang memiliki ketrampilan literasi berkualitas
madani menuntut keberadaan perpustakaan di beberapa titik strategis yang mudah
dijangkau oleh masyarakat. Pengadaan perpustakaan di desa-desa yang
disinergikan dengan organisasi kemasyarakatan setempat seperti PKK, Karang
Taruna, Pemuda Masjid, dan bentuk-bentuk paguyuban lainnya perlu menjadi bahan
pertimbangan. Kelangsungan pengadaan
perpustakaan membutuhkan petugas perpustakaan yang handal yang sebaiknya
berasal dari masyarakat setempat. Petugas yang telah mengenal baik
lingkungannya diharapkan akan lebih fleksibel dalam menyediakan informasi
tentang hal-hal baru yang berhubungan dengan masalah kesehatan, pertanian,
pendidikan, politik, dan masalah kompleks lainnya yang tengah dihadapi bangsa
ini seperti isu terorisme agar mendapatkan tanggapan dari masyarakat yang
nantinya melahirkan opini publik sebagai suatu bentuk penyampaian aspirasi.
4. Menyelenggarakan
kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat untuk menunjang
visi dan misi perpustakaan yang mengusung wacana perpustakaan sebagai media
pencerahan bagi masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan hendaknya
lebih ditujukan pada usaha mendorong masyarakat untuk menjadi pembicara aktif
tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kepentingan publik. Dalam hal ini,
kegiatan bisa berupa forum yang menampilkan pembicara yang berasal dari
masyarakat yang mengakses perpustakaan itu sendiri meski kadang menghadirkan
pembicara ahli dalam bidang pendidikan, pertanian, kesenian, dan sebagainya, perpustakaan dapat menjadi ajang
untuk penyelenggaraan acara kesenian dan kegiatan bernuansa budaya lainnya. Selain itu dapat berupa akses mobil
perpustakaan yang lebih menyeluruh ke pelosok desa sehingga dapat meningkatkan
keinginan baca masyarakat.
5. Membuka
kemungkinan hubungan kerjasama dengan berbagai pihak dengan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan
yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat tak akan terwujud tanpa kerjasama
dengan berbagai pihak. Kerjasama yang saling menguntungkan dengan memanfaatkan
jasa perpustakaan sebagai ruang publik yang efektif untuk berkomunikasi dengan
masyarakat. Kerjasama dapat juga berupa kepedulian untuk berbagi ilmu yang
menjadi keahlian pihak-pihak yang terlibat kerjasama seperti dengan pemanfaatan ilmunya dalam bentuk
buku, atau dengan seminar dan konverensi. Keberadaan perpustakaan umum
sebagai media pencerahan memungkinkan masyarakat belajar tentang berbagai hal
baru yang mendorong mereka untuk maju dan bersikap kritis terhadap hal baru
yang dianggap tidak sesuai dengan budaya bangsa. Pemanfaatan perpustakaan umum
yang disesuaikan dengan tuntutan untuk membangun masyarakat yang memiliki orientasi
ke arah kemajuan merupakan jalan bagi masyarakat untuk mendapatkan keuntungan
dari keberadaan perpustakaan.
6. Berani masuk dan mencoba menerapkan web
2.0 dan library 2.0 tentu saja dengan berbagai kemajuan web 2.0
yang dapat diterapkan di perpustakaan. Walaupun saat ini para pustakawan Indonesia masih berbicara tentang
perpustakaan digital dengan
berbagai seluk beluknya .
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perkembangan zaman dan
teknologi sarat dengan pembenahan dalam semua bidang yang ada dalam hal ini
termasuk perpustakaan. Oleh karena itu muncul berbagai tantangan yang timbul
dalam dunia perpustakaan seperti ketersediaan sarana perpustakaan dan
keterampilan serta keahlian pengelola perpustakaan yang masih minim, tantangan
yang berhubungan dengan adanya Web 2.0, adanya peran-peran baru dalam dunia kepustakawanan, rendahnya minat baca masyarakat, dan kurangnya
keahlian pustakawan diluar bidangnya.
Singkatnya, para pustakawan saat ini dihadapkan
pada suatu wacana digital yang mana pustakawan tidak boleh terjebak sebagai
seorang ahli atau teknisi dalam dunia informatika. Pustakawan diharapkan memiliki peran yang lebih besar
karena adanya kemajuan dalam teknologi informasi.
B.
Saran
Hal-hal yang harus dilakukan untuk
mengoptimalkan peran perpustakaan umum agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
sebagai media yang dapat memberikan pencerahan mencakup upaya mengubah cara
pandang masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan, memperluas penyebaran
perpustakaan, menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif
masyarakat, dan membuka kemungkinan hubungan kerjasama dengan berbagai pihak,
serta mengoptimalkan regulasi yang ada, dan semakin meningkatkan teknologi
informasi yang ada untuk meningkatkan sistem. Oleh karena itu, titik berat
pencapaian bentuk ideal sebuah perpustakaan hendaknya mengarah pada kesepakatan
berbagai pihak untuk menjadikan perpustakaan sebagai institusi sosial yang
bersifat dinamis.
DAFTAR PUSTAKA
Basuki, Sulistyo. Pengantar
Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama,1991.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka, 1988.
Zuhdi, Najib. Kamus Lengkap Praktis 20 Juta Inggris Indonesia. Surabaya:
Fajar Mulya, 1993.
NS, Utarno. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 2003.
Milburga, Larasati, et al. Membina Perpustakaan
Sekolah. Yogyakarta: Kanisius, 1991.
[1] Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (Jakarta:Balai
Pustaka, 1988). hal 713.
[2] Nadjib Zuhdi. Kamus Lengkap Praktis 20 Juta Inggris Indonesia. (Surabaya:
Fajar Mulya, 1993). hal. 270.






