Rabu, 03 Juli 2013

Implementasi, Tantangan Perpustakaan Sekarang dan Kedepan

Oleh : Akib Widyana
NIM : 13040112130180 - Kelas C - Semester 2
Program Studi Ilmu Perpustakaan - Jurusan Ilmu Perpustakaan
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Abstrak
 Perlunya menerapkan sistem pengelolaan perpustakaan yang baik dan benar sehingga tidak menyebabkan inefisiensi pada segala bidang. Untuk menjawab tantangan di masa depan, pustakawan Indonesia harus berani tampil dalam dunia kepustakawanan yang berwawasan multidisiplin dan multi-skills.Tujuan perpustakaan meliputi memperluas penyebaran koleksi informasi perpustakaan dengan cara konvensional dan digital.
Kata kunci : Perpustakaan, Pustakawan, Teknologi, Informasi.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Persoalan mendasar yang dihadapi oleh para pengelola perpustakaan pada dasarnya bukan terletak pada kurangnya minat masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan maupun keengganan masyarakat untuk menyambangi perpustakaan, karena memang minat baca masyarakat akan terus berkembang seiring dengan kemajuan pendidikan sebagai kebutuhan primer masyarakat. Tetapi lebih kepada bagaimana meyakinkan suatu instansi untuk mau menerapkan sistem pengelolaan perpustakaan yang baik dan benar sehingga tidak menyebabkan inefisiensi pada segala bidang, selain itu juga keberadaan sumber daya manusia bidang perpustakaan yang memiliki kompetensi khusus dalam bidangnya yang masih minim, dan juga pertumbuhan bahan pustaka yang tidak diimbangi dengan ketersediaan ruangan yang memadai.
Problema tersebut tentu sangat memprihatikan, karena akan berakhir kepada pencitraan yang buruk dalam bidang perpustakaan, karena menurut saya tuntutan penggunaan teknologi informasi dan digital di dalam dunia perpustakaan tidak akan memberikan perbaikan apabila permasalahan-permasalahan mendasar yang ada tidak diatasi terlebih dahulu. Namun dengan adanya korelasi yang apik antara perpustakaan sebagai sumber informasi dengan teknologi akan dicapai tujuan utama perangkat teknologi yang memungkinkan kecepatan dan keakuratan informasi serta untuk meningkatkan layanan.
Dipandang dari nilai pentingnya, masyarakat yang peduli dan memperhatikan pendidikan akan mengatakan keberadaan buku penting bahkan ada sebuah pepatah yang mengatakan buku adalah sumber ilmu. Buku yang menjadi bahan pokok keberadaan perpustakaan membutuhkan penanganan yang lebih mendalam untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan informasi. Sehingga perpustakaan diharapkan mampu memainkan peranan dan fungsinya secara optimal, dan untuk mencapai hal itu dibutuhkan penanganan yang baik terhadap seluruh aspek bidang manajerial perpustakaan untuk mengatasi tantangan-tantangan yang akan muncul seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi.
b. Kerangka teori
Sebagai landasan dalam penyusunan, akan dijelaskan mengenai pengertian perpustakaan dari beberapa segi, yaitu:
1. Pengertian menurut bahasa
Dalam bahasa Indonesia istilah “perpustakaan” dibentuk dari kata dasar pustaka ditambah awalan “per” dan akhiran ”an”. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia perpustakaan diartikan sebagai “kumpulan buku-buku (bahan bacaan, dsb).”[1] Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut “library yang berarti perpustakaan.[2]

2. Pengertian menurut istilah
- Perpustakaan diartikan sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual ( Sulistyo, Basuki ; 1991 ).
- Menurut Sutarno NS, M. Si
Perpustakaan adalah suatu ruangan, bagian dari gedung/bangunan, atau gedung itu sendiri, yang berisi buku-buku koleksi, yang disusun dan diatur sedemekian rupa sehingga mudah dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan untuk pembaca.[3]
- C. Larasati Milburga, dkk
Perpustakaan adalah suatu unit kerja yang berupa tempat menyimpan koleksi bahan pustaka yang diatur secara sistematis dengan cara tertentu untuk digunakan secara berkesinambungan oleh pemakainya sebagai sumber informasi.[4]

Dari pengertian di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pengertian perpustakaan adalah beberapa unit kerja yang terintegrasi melalui sistem untuk mendukung kinerja pengumpulan, penyimpan dan pemelihara koleksi pustaka yang diorganisasikan dan diadministrasikan dengan cara tertentu untuk untuk pengolahan, penyusunan dan pelayanan koleksi yang mendukung berjalannya fungsi – fungsi perpustakaan.
c. Rumusan masalah
a.       Apa saja berbagai tantangan yang dihadapi perpustakaan sekarang dan kedepan?
b.      Bagaimana mengatasi berbagai tantangan perpustakaan sekarang dan kedepan?
c.       Bagaimana mengkoordinasikan seluruh aspek dalam manajerial perpustakaan agar tujuan utama perpustakaan dapat dicapai?
     BAB II
ISI

A.      Pengertian perpustakaan
Menurut Sulistyo Basuki dalam bukunya Pengantar Ilmu Perpustakaan, perpustakaan diartikan sebuah ruang atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu yang digunakan pembaca bukan untuk dijual. Ada dua unsur utama dalam perpustakaan, yaitu buku dan ruangan. Di zaman sekarang koleksi perpustakaan tidak hanya terbatas berupa buku-buku, melainkan bisa berupa koleksi film, slide, rekaman suara dan lain-lain yang dapat diterima di perpustakaan sebagai sumber informasi. Kemudian semua sumber informasi itu diorganisir, disusun teratur sehingga ketika kita membutuhkan suatu informasi kita dengan mudah dapat menemukannya.
Lebih jauh lagi kita dapat melacak kedudukan perpustakaan dalam kerangka ilmu informasi.  Dalam ilmu informasi kita mengenal dokumentasi yang didalamnya meliputi dokumen dalam wujud korporil (museum), dokumen dalam wujud literair (perpustakaan), dan dokumen privat (kearsipan). Secara umum kita dapat mengidentifikasi dokumen dalam wujud korporil sebagai benda-benda artefak dan koleksi-koleksi antik dan karya  yang memiliki nilai historis dan archaic, khasanah  tersebut dikelola oleh museum. Dokumen literair yang meliputi bidang perpustakaan disebut juga sebagai dokumentasi publik (dokumentasi yang terbuka untuk umum) yang dibedakan dengan dokumentasi privat (arsip).
Apabila ditinjau dari tujuannya, perpustakaan tidak hanya dimaksudkan untuk menyediakan koleksi bahan-bahan tercetak, namun juga berupa:
1.      Menghimpun informasi dalam berbagai bentuk atau format untuk pelestarian bahan pustaka dan sumber informasi sumber ilmu pengetahuan lainnya.
2.      Sebagai agen perubahan ( Agent of changes ) dan agen kebudayaan serta pusat informasi dan sumber belajar mengenai masa lalu, sekarang, dan masa akan datang. Selain itu, juga dapat menjadi pusat penelitian, rekreasi dan aktifitas ilmiah lainnya.
3.      Menyediakan sarana atau tempat untuk menghimpun berbagai sumber informasi untuk dikoleksi secara terus menerus, diolah dan diproses.
Sebagai sarana atau wahana untuk melestarikan hasil budaya manusia (ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya ) melalui aktifitas pemeliharaan dan pengawetan koleksi.
4.      Menciptakan masyarakat terpelajar dan terdidik, terbiasa membaca, berbudaya tinggi serta mendorong terciptanya pendidikan sepanjang hayat ( Long life education ).
Sedangkan tujuan perpustakaan akan erat kaitannya dengan peranannya didalam masyarakat. Peranan perpustakaan adalah menjadi media antara pemakai dengan koleksi sebagai sumber informasi pengetahuan karena dengan tersedianya khasanah pustaka dapat menjadi solusi dari kebutuhan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan, kemudian menjadi lembaga pengembangan minat dan budaya membaca serta pembangkit kesadaran pentingnya belajar sepanjang hayat dengan peningkatan fasilitas dan pelayanan perpustakaan karena setelah terbangun budaya baca penyebaran dan penyerapan pengetahuan akan lebih mudah dilakukan. Peranan yang lain adalah mengembangkan komunikasi antara pemakai dan atau dengan penyelenggara sehingga tercipta kolaborasi, sharing pengetahuan maupun komunikasi ilmiah lainnya serta motivator, mediator dan fasilitator bagi pemakai dalam usaha mencari, memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalaman.Berperan sebagai agen perubah, pembangunan dan kebudayaan manusia.
B. Tantangan Perpustakaan Sekarang dan Kedepan
Perkembangan zaman dan teknologi sarat dengan pembenahan dalam semua bidang yang ada dalam hal ini termasuk perpustakaan. Dapat dikatakan pekerjaan pustakawan saat ini tidak sekedar menata buku tetapi memberikan akses informasi kepada masyarakat dalam berbagai format, hal itu juga karena tuntutan untuk melibatkan teknologi informasi didalam dunianya atau dengan kata lain pengubahan format dari konvensional menuju digital. Para pemerhati bidang perpustakaan berjuang memberikan akses internet untuk mencegah agar tidak dianggap menjadi masyarakat kelas-dua dalam dunia digital.
Tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan perpustakaan adalah ketersediaan sarana perpustakaan, dan keterampilan serta keahlian pengelola perpustakaan. Sarana sebagai alat atau peralatan yang mendukung maksud dan tujuan dalam hal ini adalah perpustakaan dapat berupa ruangan atau gedung, kemudian rak-rak, fasilitas baca, kemudian anggaran dan sumber daya manusia yang menjadi bagian dalam proses manajerial. Dalam pelaksanaannya keberadaan hal-hal yang mendukung tersebut memang masih sangatlah minim, bahkan tergantung dari tingkat taraf hidup daerah yang berbeda-beda. Pertumbuhan buku-buku seiring dengan majunya dunia pendidikan tidak diimbangi dengan pembangunan ruangan dan penyediaan fasilitas yang memadai. Sekolah yang telah memiliki perpustakaan pun diyakini masih banyak yang belum sepenuhnya menyelenggarakan perpustakaan secara ideal. Padahal, perpustakaan adalah sarana baku yang harus ada di sekolah guna meningkatkan mutu pendidikan serta menjadi tonggak dan wahana membangun peradaban kemanusiaan yang lebih baik. Kondisi serupa juga dialami oleh Perpustakaan Daerah, ditambah makin minimnya koleksi dan sedikitnya anggaran untuk perpustakaan dari sektor pendidikan. Selain itu dari segi SDM faktor keterampilan dan keahlian pengelola perpustakaan juga berpengaruh terhadap minat pengguna perpustakaan. Perpustakaan yang ideal adalah yang dikelola secara profesional, berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan pengguna, dan selalu berupaya melakukan perbaikan dan peningkatan terus menerus.Sehingga hal-hal itu menyebabkan keterbatasan perpustakaan dan kurangnya koleksi perpustakaan yang jelas berpengaruh terhadap minat kunjungan ke perpustakaan.
Ada beberapa tantangan-tantangan lain yang muncul dalam dunia kepustakawanan. Tantangan tersebut dapat memacu maupun menghambat perpustakaan di Negara kita. Keberadaan internet yang sudah menjadi bagian dalam hidup kita menyebabkan suatu tantangan yang berhubungan dengan adanya Web 2.0. Dengan kata lain, internet telah menjadi fasilitas utama penunjang pendidikan dan mengesampingkan adanya perpustakaan. Fenomena ini juga semakin terlihat di Indonesia dimana semakin banyak anak-anak yang menggunakan internet sebagai alat Bantu untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan rumah. Sementara itu, internet pun juga terus berkembang dan saat ini masyarakat telah banyak memanfaatkan web 2.0 sebagai suatu media untuk berkomunikasi dan berbagi pengalaman dan cerita, berbagi gambar, berbagi audio dan sebagainya. Web 2.0 merupakan pengembangan internet sebagai media untuk bersosialisasi dengan sesame serta untuk berbagi. Sebagian perpustakaan juga telah mulai menerapkan web 2.0 agar fasilitas dan informasi mereka dapat dengan mudah diketahui oleh para penggunanya. Dalam kaitan dengan perpustakaan, web 2.0 dapat digunakan misalnya untuk lebih menjelaskan tentang isi katalog, bibliografi, indeks, dan informasi-informasi lain yang mampu diakses. Dengan berbasis web 2.0 maka katalog yang dulunya hanya berisi informasi serba sedikit tentang sebuah buku, kini informasinya jauh lebih bermanfaat dari sebelumnya, karena katalog ini dilengkapi dengan daftar isi buku, review dan lain sebagainya. Walaupun saat ini para pustakawan Indonesia masih berbicara tentang perpustakaan digital .Untuk dapat maju dan sejajar dengan para pustakawan di negara lain, kita harus berani tampil dalam dunia kepustakawanan yang berwawasan multidisiplin dan multi-skills.
Penyelenggaraan perpustakaan saat ini mensyaratkan penggunaan teknologi informasi. Perpustakaan harus mampu memenuhi kebutuhan pengguna yang semakin beragam dan fleksibel. Pengguna perpustakaan sekarang menghendaki kecepatan dan ketepatan atas informasi yang dibutuhkan. Artinya, pengelolaan perpustakaan harus mengikuti perkembangan teknologi informasi. Koleksi, data, dan informasi yang dimiliki perpustakaan dilayankan kepada pengguna dengan memanfaatkan berbagai media baik online, offline, maupun layanan baca di tempat dan peminjaman.
Tantangan selanjutnya adalah mengenai peran-peran baru dalam dunia kepustakawanan, peran-peran tersebut meliputi gaming librarian, digital strategist, digital technologist, e-resources librarian, archivist librarian,  marketing and communication librarian, teaching and learning librarian. Yang dijabat oleh para pustakawan dan berlatar belakang pustakawan. Sedangkan apabila dibandingkan dengan kepustakawanan di Indoensia pengelola perpustakaan masih saja terdapat pada jabatan fungsional pustakawan.
Selanjutnya adalah tantangan klasik yang terutama kita hadapi dalam dunia sehari-hari. Walaupun selalu saja banyak perpustakaan mengatakan bahwa perpustakaan mereka selalu ramai dikunjungi oleh para pemakainya, namun perlu ditelusuri lebih lanjut, berapa persen dari masyarakat tersebut yang telah memanfaatkan perpustakaan. Pengembangan minat baca memang harus dilakukan dari kecil dan jangan sampai terputus di tengah jalan. Untuk itulah kita perlu memikirkan juga para pustakawan yang bekerja di sekolah-sekolah (SD, SMP, dan SMA) agar perjuangan mereka bisa lebih diargai dan mendapatkan apresiasi yang lebih baik lagi. mengeluarkan berbagai bacaan tentang literasi yang sangat baik untuk dipelajari oleh para pustakawan. dan dugaan rendahnya minat baca masyarakat karena ketersediaan perpustakaan dan koleksi yang dimiliki terbatas. Saat ini secara nasional terdapat lebih dari 76 ribu sekolah dari jenjang SD hingga SMA/SMK belum memiliki perpustakaan. Rinciannya sekolah yang belum memiliki perpustakaan itu adalah 55 ribu lebih SD, 12 ribu lebih SMP, dan hampir 9 ribu SMA/SMK.
Tantangan berikutnya ada di dunia perkuliahan bagi para calon pustakawan dan setelahnya. Para pengajar dan pembelajar akan sangat baik kalau bisa mempertimbangkan para calon pustakawan tersebut tidak hanya memiliki ketrampilan dalam bidangnya saja, tetapi juga mampu berbicara pada forum-forum yang mungkin berawal dari kampus dan kemudian masuk ke tingkat lokal, nasional dan internasional. Jadi pustakawan diharapkan tidak hanya berkutat pada pengelolaan buku saja namun juga dapat memberikan kontribusi seperti pengadaan penelitian mengenai bidangnya dan mampu mempresentasikan pada forum nasional maupun internasional.
Jadi jelas dapat kita ketahui bahwa tantangan perpustakaan tidak sekadar gedung dan koleksi perpustakaan berupa buku, majalah, dan sejenisnya yang masih terbatas. Tetapi lebih dari itu adalah penyediaan ragam koleksi dan mekanisme layanan yang prima, dengan memanfaatkan teknologi, serta memaksimalkan kinerja dan keahlian para pustakawan.
C.  Solusi tantangan perpustakaan sekarang dan kedepan
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk menjawab permasalahan yang muncul dari tantangan-tantangan tersebut adalah:
1.      Mengoptimalkan regulasi yang dapat menjadi landasan pengembangan perpustakaan, terutama UU No. 43/2007 tentang Perpustakaan. Selain itu, untuk perpustakaan sekolah diatur dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa sekolah harus mengalokasikan minimal lima persen dari rencana anggaran sekolah untuk perpustakaan dan hal yang sama juga berlaku untuk perguruan tinggi. Karena pelaksanaan dan implementasi regulasi ini masih sangat kurang. 
2.      Mengubah cara pandang masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan yang merupakan Keharusan untuk mengubah cara pandang masyarakat adalah masalah mental. Kelemahan mental merupakan bentuk-bentuk dari pengaruh konsep atau pandangan lama yang telah mengendap dalam alam pikiran individu. Selama ini, masyarakat cenderung beranggapan perpustakaan hanya diperuntukkan bagi mereka yang berpendidikan dan memiliki minat baca-tulis yang tinggi. Oleh karena itu, upaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan berkaitan erat dengan kebutuhan untuk merancang bentuk perpustakaan yang mudah diakses oleh masyarakat dari berbagai kalangan.
3.      Memperluas penyebaran perpustakaan dengan komitmen untuk membangun masyarakat yang memiliki ketrampilan literasi berkualitas madani menuntut keberadaan perpustakaan di beberapa titik strategis yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Pengadaan perpustakaan di desa-desa yang disinergikan dengan organisasi kemasyarakatan setempat seperti PKK, Karang Taruna, Pemuda Masjid, dan bentuk-bentuk paguyuban lainnya perlu menjadi bahan pertimbangan. Kelangsungan pengadaan perpustakaan membutuhkan petugas perpustakaan yang handal yang sebaiknya berasal dari masyarakat setempat. Petugas yang telah mengenal baik lingkungannya diharapkan akan lebih fleksibel dalam menyediakan informasi tentang hal-hal baru yang berhubungan dengan masalah kesehatan, pertanian, pendidikan, politik, dan masalah kompleks lainnya yang tengah dihadapi bangsa ini seperti isu terorisme agar mendapatkan tanggapan dari masyarakat yang nantinya melahirkan opini publik sebagai suatu bentuk penyampaian aspirasi.
4.      Menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat  untuk menunjang visi dan misi perpustakaan yang mengusung wacana perpustakaan sebagai media pencerahan bagi masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan hendaknya lebih ditujukan pada usaha mendorong masyarakat untuk menjadi pembicara aktif tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kepentingan publik. Dalam hal ini, kegiatan bisa berupa forum yang menampilkan pembicara yang berasal dari masyarakat yang mengakses perpustakaan itu sendiri meski kadang menghadirkan pembicara ahli dalam bidang pendidikan, pertanian, kesenian, dan sebagainya, perpustakaan dapat menjadi ajang untuk penyelenggaraan acara kesenian dan kegiatan bernuansa budaya lainnya. Selain itu dapat berupa akses mobil perpustakaan yang lebih menyeluruh ke pelosok desa sehingga dapat meningkatkan keinginan baca masyarakat.
5.      Membuka kemungkinan hubungan kerjasama dengan berbagai pihak dengan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat tak akan terwujud tanpa kerjasama dengan berbagai pihak. Kerjasama yang saling menguntungkan dengan memanfaatkan jasa perpustakaan sebagai ruang publik yang efektif untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Kerjasama dapat juga berupa kepedulian untuk berbagi ilmu yang menjadi keahlian pihak-pihak yang terlibat kerjasama seperti dengan pemanfaatan ilmunya dalam bentuk buku, atau dengan seminar dan konverensi. Keberadaan perpustakaan umum sebagai media pencerahan memungkinkan masyarakat belajar tentang berbagai hal baru yang mendorong mereka untuk maju dan bersikap kritis terhadap hal baru yang dianggap tidak sesuai dengan budaya bangsa. Pemanfaatan perpustakaan umum yang disesuaikan dengan tuntutan untuk membangun masyarakat yang memiliki orientasi ke arah kemajuan merupakan jalan bagi masyarakat untuk mendapatkan keuntungan dari keberadaan perpustakaan.
6.      Berani masuk dan mencoba menerapkan web 2.0 dan library 2.0 tentu saja dengan berbagai kemajuan web 2.0 yang dapat diterapkan di perpustakaan. Walaupun saat ini para pustakawan Indonesia masih berbicara tentang perpustakaan digital dengan berbagai seluk beluknya .

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Perkembangan zaman dan teknologi sarat dengan pembenahan dalam semua bidang yang ada dalam hal ini termasuk perpustakaan. Oleh karena itu muncul berbagai tantangan yang timbul dalam dunia perpustakaan seperti ketersediaan sarana perpustakaan dan keterampilan serta keahlian pengelola perpustakaan yang masih minim, tantangan yang berhubungan dengan adanya Web 2.0, adanya peran-peran baru dalam dunia kepustakawanan, rendahnya minat baca masyarakat, dan kurangnya keahlian pustakawan diluar bidangnya.
Singkatnya, para pustakawan saat ini dihadapkan pada suatu wacana digital yang mana pustakawan tidak boleh terjebak sebagai seorang ahli atau teknisi dalam dunia informatika. Pustakawan  diharapkan memiliki peran yang lebih besar karena adanya kemajuan dalam teknologi informasi.
B.       Saran
Hal-hal yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan peran perpustakaan umum agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai media yang dapat memberikan pencerahan mencakup upaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan, memperluas penyebaran perpustakaan, menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat, dan membuka kemungkinan hubungan kerjasama dengan berbagai pihak, serta mengoptimalkan regulasi yang ada, dan semakin meningkatkan teknologi informasi yang ada untuk meningkatkan sistem. Oleh karena itu, titik berat pencapaian bentuk ideal sebuah perpustakaan hendaknya mengarah pada kesepakatan berbagai pihak untuk menjadikan perpustakaan sebagai institusi sosial yang bersifat dinamis.

DAFTAR PUSTAKA
Basuki, Sulistyo.  Pengantar  Ilmu   Perpustakaan.   Jakarta:  Gramedia Pustaka Utama,1991.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka, 1988.
Zuhdi, Najib. Kamus Lengkap Praktis 20 Juta Inggris Indonesia. Surabaya: Fajar Mulya, 1993.
NS, Utarno. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.
Milburga, Larasati, et al. Membina Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta: Kanisius, 1991.



[1]  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (Jakarta:Balai Pustaka, 1988). hal 713.
[2] Nadjib Zuhdi. Kamus Lengkap Praktis 20 Juta Inggris Indonesia. (Surabaya: Fajar Mulya, 1993). hal. 270.
[3]  Utarno NS. Perpustakaan dan Masyarakat. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003). hal.7.
[4] Larasati Milburga, et al. membina Perpustakaan sekolah. (Yogyakarta: Kanisius, 1991).hal.17.